Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Metro menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri oleh jajaran pengurus, lembaga, badan otonom (Banom), serta tokoh masyarakat setempat. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat di Kantor PCNU Kota Metro, Jalan Soekarno-Hatta No. 73, Mulyojati, Metro Barat, Kamis (12/3/2026).
Acara diawali dengan pembacaan istighosah dan doa bersama untuk kemaslahatan umat yang diimami oleh Kiai Abdul Hamid.
Ketua PCNU Kota Metro, KH Ismail, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah dan mempererat koordinasi antar-pengurus di momentum Ramadan ini.
“Buka bersama ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana kita untuk saling menguatkan tekad dalam berkhidmat kepada jamaah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Kota Metro,” ujar Kiai Ismail.
Selain menjadi ajang silaturahmi, pertemuan ini juga dimanfaatkan sebagai forum diskusi santai mengenai program-program strategis PCNU Kota Metro ke depan, termasuk penguatan ekonomi keumatan dan pendidikan di tingkat lokal.
Dalam Tausiyahnya KH Buya Zakaria Ahmad berpesan Seringkali kita merasa lelah bekerja, membanting tulang dari pagi hingga malam, namun rasanya hasil yang didapat menguap begitu saja. Hati tidak tenang dan kebutuhan seolah tidak pernah cukup.
“Sudah susah mendapatkan hasil banyak tetapi tidak berkah, karena belum dikeluarkan Zakat Maalnya.”
Beliau melanjutkan, Bahwa Harta yang kita genggam bukanlah sepenuhnya milik kita. Di dalamnya ada hak fakir miskin. Jika hak itu tidak dikeluarkan, maka ia akan menjadi “racun” yang merusak keberkahan harta lainnya. Maka, tunaikanlah Zakat Maal sebagai pembersih harta dan Zakat Fitrah sebagai pembersih jiwa di bulan suci ini.
Setelah harta kita bersihkan, sempurnakan penghambaan kita dengan tiga pilar utama:
Zakat: Sebagai bukti kepedulian sosial dan ketaatan finansial.
Shalat: Sebagai tiang agama dan penghubung langsung antara hamba dengan Sang Pencipta.
Puasa: Sebagai madrasah kesabaran dan pengendalian diri.

Dalam Al-Qur’an (QS. Fatir: 32), Allah SWT menjelaskan tiga golongan manusia dalam menyikapi ketetapan Allah dan amal ibadah.
Pertama, Zhalamul linafsih (Menzalimi diri sendiri): Yaitu orang yang lebih banyak perbuatan buruknya daripada kebaikannya. Mereka sering melalaikan kewajiban, termasuk enggan berzakat meski mampu.
Kedua, Muqtashid (Pertengahan): Yaitu orang yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan, namun terkadang masih melakukan perkara makruh atau meninggalkan amalan sunnah. Ibadahnya “pas-pasan”.
Ketiga, Sabiqum bil-khairat (Bergegas dalam kebaikan): Inilah golongan terbaik. Mereka yang tidak hanya menunaikan wajib (seperti Zakat dan Shalat 5 waktu), tetapi juga berlomba-lomba dalam amal sunnah dengan izin Allah.
Mari kita merenung, di posisi manakah kita saat ini? Jangan sampai kita menjadi golongan yang banyak dosa daripada pahala hanya karena kikir terhadap harta yang sejatinya adalah titipan.

Jadikanlah Zakat, Shalat, dan Puasa sebagai kendaraan kita menuju rida-Nya agar hidup menjadi berkah dan hati menjadi tenang.
Melalui agenda ini, diharapkan seluruh elemen NU di Kota Metro dapat terus bersinergi dalam menebarkan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang sejuk dan moderat.














