Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Alamsyah, M.Ag., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para wisudawan dalam acara Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas Ma’arif Lampung (UMALA) Tahun 2026, Selasa (28/4/2026).
Dalam sambutannya, Prof. Alamsyah menekankan bahwa Universitas Ma’arif Lampung telah menunjukkan konsistensi sebagai perguruan tinggi yang terus berkembang dan memberikan bukti nyata bagi dunia pendidikan.
“Kepada para wisudawan, saya mengingatkan bahwa tantangan di masa depan akan jauh lebih kompleks, terutama terkait multikulturalisme dan disrupsi teknologi,” ujarnya.

Prof Alamsyah tekankan empat poin utama sebagai bekal para lulusan Universitas Ma’arif Lampung.
Menurutnya menghargai Realitas Multikultural, dunia saat ini tidak lagi memiliki batas yang kaku. Alumni akan hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang budaya dan keyakinan.
“Multikulturalisme bukan sekadar perbedaan, melainkan kekayaan energi. Kemampuan bertoleransi, berempati, dan berkolaborasi adalah soft skill krusial untuk menciptakan harmoni global,” jelasnya.
Kemudian berpacu dengan Kemajuan Zaman (Disrupsi Teknologi). Berada di pusaran transformasi digital seperti AI dan otomatisasi, gelar sarjana hanyalah sebuah fondasi. Beliau mendorong para lulusan untuk menerapkan prinsip lifelong learning (belajar sepanjang hayat).
“Jangan hanya menjadi penonton perubahan, jadilah inovator yang memanfaatkan teknologi untuk kemaslahatan orang banyak,” tambahnya.
Menghadapi Tantangan Global yang Lebih Berat
Ke depan, tantangan seperti krisis iklim dan ketimpangan ekonomi menanti. Persaingan lulusan bukan lagi antar kawan sealmamater, melainkan dengan talenta global. Dalam hal ini, ketangguhan (resilience) dan integritas moral menjadi kunci utama untuk memimpin, bukan sekadar bertahan hidup.
Tanggung Jawab Moral, ia mengingatkan bahwa wisuda adalah garis start untuk kontribusi yang lebih besar. Beliau berharap para lulusan UMALA menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, namun tetap rendah hati serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di mana pun mereka berada.














