Rangkaian acara Haflah Attasyakur Lil Ikhtitam, Khataman Kitab Alfiyah Ibnu Malik Angkatan IV, serta Al-Qur’an 10, 20, dan 30 Juz Bil Ghoib di Pondok Pesantren Ma’arif NU Kota Metro pada Jumat (5/6/2016) malam berlangsung khidmat.
Dalam acara tersebut, Kiai Purnomo Sidiq menyampaikan mauidhoh hasanah mendalam dengan mengutip falsafah terkenal milik ulama kharismatik, almarhum KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen):”Ora ono apike kiai sing ora terus (ngaji/istiqomah), lan ora ono bajingan sing apik kejobo sing terus (tobat).
Kiai Purnomo kemudian menyepadankan petuah Jawa tersebut ke dalam bahasa Arab balaghah.
“Lā khaira fī ‘ālimin lā yastamirru ‘alā ‘ilmihi, wa lā khaira fī ‘āṣin illā man tāba fastaqāma. Tidak ada kebaikan pada seorang alim (kiai) yang tidak terus-menerus (istiqomah) dengan ilmunya, dan tidak ada kebaikan pada pelaku maksiat (bajingan) kecuali mereka yang bertobat lalu beristiqomah,” tutur Kiai Purnomo.
Menurut Kiai Purnomo, perkara yang menjadi tolok ukur atau nilai sejati dari seorang manusia adalah pada akhir kesudahannya (khusnul/suul khotimah), bukan pada apa yang terlihat di awalnya.
“Pesan mendalam ini memiliki dua sudut pandang utama, pertama makna “Ora Ono Apike Kiai Sing Ora Terus”, Ujian Keilmuan bahwa menjadi seorang kiai, ulama, atau ahli agama bukanlah sebuah pencapaian final. Seseorang tidak dinilai mulia hanya karena ia pernah pintar atau pernah mengajar di masa lalu,” Ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa Tuntutan Istiqomah dan Kebaikan seorang pemuka agama bisa hilang jika di tengah jalan ia berhenti berjuang, menyimpang dari jalan kebenaran, atau tidak konsisten (ora terus) dalam menjaga keikhlasannya.
Menurutnya Pengingat Jiwa merupakan peringatan keras bagi para ahli ilmu agar menjauhi sifat sombong dan terus konsisten menjaga amanah ilmunya sampai akhir hayat.
“Kemudian sudut pandang dari makna “Ora Ono Bajingan Sing Apik, Kejobo Sing Terus (Tobat)”, pertama pintu tobat selalu terbuka, seseorang yang saat ini dicap buruk, nakal, atau “bajingan” oleh masyarakat, status buruk tersebut tidaklah bersifat permanen di mata Allah SWT,” katanya.
Kedua kebaikan yang sesungguhnya, pelaku maksiat baru dikatakan baik apabila ia mau berbalik arah secara total (tobat nasuha) dan secara konsisten menjaga pertobatannya tersebut hingga ajal menjemput.
Ketiga larangan merendahkan orang lain, pesan ini melarang keras masyarakat untuk mudah menghakimi masa lalu atau kondisi buruk seseorang saat ini, sebab akhir hidup manusia menjadi rahasia yang tidak diketahui.
Di akhir ceramahnya, Kiai Purnomo Sidiq berpesan kepada seluruh jamaah yang hadir agar tidak silau dengan kesalehan masa lalu dan jangan pernah putus asa dengan kemaksiatan masa lalu. Sebab, semua manusia pada akhirnya akan dinilai dari bagaimana mereka konsisten menjaga proses kebaikan hingga garis akhir kehidupan mereka.














