Metro Utara, NU Online Kota Metro – Pengurus dan Kader Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Metro Utara kembali menggelar pertemuan rutinan Kamis Legi pada Rabu (4/11/2026) malam.
Kegiatan yang dipusatkan di Madin Thoriqul Jannah, Kelurahan Purwosari, Metro Utara tersebut dikemas dalam bentuk Istighotsah dan Ngaji Ke-NU-an. Kegiatan ini menjadi media konsolidasi rutin bagi seluruh pengurus MWC NU, Lembaga, Banom, dan kader NU se-Metro Utara.
Istighotsah dipimpin langsung oleh Kyai Mufid Arsyad. Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti jalannya istighotsah yang diikuti puluhan pengurus dan kader NU.
Dalam pertemuan rutinan ini, Pengurus MWC NU Metro Utara menetapkan tiga tema kajian utama yang disampaikan secara bergilir pada setiap pertemuan:
- Aswaja
- Fiqih & Hujjah Amaliyah
- Keorganisasian NU
Satu tema disampaikan dalam satu pertemuan, dan pada pertemuan berikutnya bergilir ke tema selanjutnya, agar pemahaman kader NU Metro Utara semakin utuh dan sistematis.
Pada pertemuan malam ini, kajian disampaikan oleh Kyai Abdul Hamid dengan tema “Sanad Keilmuan NU dan Khidmat Pengurus NU”.
Dalam penyampaiannya, Kyai Abdul Hamid menegaskan beberapa pesan penting:
“Pertemuan rutinan Kamis Legi ini adalah media konsolidasi pengurus dan kader NU Metro Utara. Di sinilah kita menyatukan langkah, menyatukan hati, dan menyatukan khidmat.
Sebagai pengurus, kita ini diibaratkan paku. Paku yang bisa menyatukan pola kayu dalam sebuah bangunan sesuai ukurannya. Kalau paku-nya tidak kuat, bangunannya akan goyang. Kalau pengurusnya tidak solid, organisasi NU-nya akan lemah. Maka pengurus NU harus menjadi pemersatu, bukan pemecah belah.
Seyogyanya pengurus NU terus bersinergi dan terus melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menambah pemahaman dan kepekaan pengkhidmatan, serta dapat melakukan pendampingan kepada warga NU agar maslahat.
Kegiatan yang dimaksud seperti Kajian Bahtsul Masail yang membahas masalah-masalah ibadah yang masih sangat perlu disampaikan sesuai persepsi hukum fiqih yang benar. Contohnya zakat penghasilan, zakat pertanian, dan pemulasaraan jenazah yang benar. Ini adalah kebutuhan riil warga NU yang harus kita dampingi,” tuturnya.
Kyai Abdul Hamid juga menekankan pentingnya menjaga sanad keilmuan NU. Sanad keilmuan yang bersambung dari guru ke guru, dari kyai ke santri, dari Mbah Hasyim Asy’ari hingga Rasulullah SAW, adalah kekuatan utama NU yang tidak dimiliki organisasi lain.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Pengurus MWC NU Metro Utara berharap rutinan Kamis Legi ini terus istiqomah menjadi ruang konsolidasi, ruang ngaji, dan ruang khidmat bagi seluruh kader NU di Metro Utara.
Pewarta: Ali Muhammad Wafa
Editor: Dedek Riwanto JS













