Pimpinan Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (PC Muslimat NU) Kota Metro menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-80 Muslimat NU dengan khidmat dan meriah pada Sabtu (26/6/2026). Acara yang dipusatkan di Kota Metro ini dihadiri oleh ratusan kader Muslimat NU, jajaran pengurus, serta para tokoh agama setempat.
Puncak acara diisi dengan penyampaian Mauidzotul Hasanah (ceramah agama) oleh daiyah asal Lampung Tengah, Nyai Hj Afifah Shodiq. Dalam tausiyahnya, ia memberikan motivasi spiritual yang mendalam kepada seluruh kader Muslimat NU untuk tidak pernah ragu dalam berkhidmat dan melakukan amal kebaikan.”Yaqin amal baik apapun untuk ke jalan Allah itu harus modal nekat,” tegas Nyai Hj Afifah Shodiq di hadapan para jemaah.
Maksud dari ‘modal nekat’ ini, lanjutnya, adalah keyakinan penuh, kepasrahan total (tawakkal), serta keberanian untuk melangkah di jalan dakwah tanpa terus-menerus dikalahkan oleh rasa cemas akan keterbatasan materi.
Untuk memperkuat pesannya, Nyai Hj Afifah menukil sebuah kisah sarat hikmah dari Kitab Durratun Nasihin (Durotun Nasihin). Ia menceritakan tentang sepasang suami istri yang dikenal sangat kaya raya, saleh, salehah, dan hidup harmonis tanpa pernah bertengkar sedikit pun.
Namun, ujian keimanan datang saat wilayah mereka dilanda musim paceklik yang hebat. Kondisi ekonomi keluarga tersebut merosot tajam hingga berada di titik nadir. Sang istri yang selama hidupnya tidak pernah mengeluh, tiba-tiba terpaksa menyampaikan komplain kepada suaminya karena persediaan makanan yang benar-benar habis.
Mendengar keluhan mendesak dari sang istri tercinta, sang suami segera bergegas keluar rumah untuk mencari pinjaman demi menyambung hidup keluarganya. Ia mendatangi kerabat dan tetangga sesama Muslim, namun tidak ada satu pun yang bisa memberikan pinjaman karena semua orang sedang sama-sama terjepit dalam masa paceklik.
Setelah berikhtiar keras dan hampir berputus asa, sang suami akhirnya mendapatkan pinjaman dari seorang warga non-Muslim.
Nyai Hj Afifah Shodiq kemudian melanjutkan sisa kisah tersebut bahwa dari uang pinjaman non-Muslim itulah keajaiban sedekah dan keteguhan iman pasutri saleh ini diuji. Meski dalam keadaan sulit, sang suami justru menyedekahkan sebagian harta pinjaman tersebut kepada orang lain yang jauh lebih membutuhkan di tengah jalan.
Atas modal ‘nekat’ dan ketulusan itu, Allah SWT memberikan pertolongan yang tidak disangka-sangka, hingga akhirnya sang pemberi pinjaman pun mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam karena takjub melihat kemuliaan akhlak mereka.
Melalui kisah ini, Nyai Hj Afifah mengajak seluruh pengurus dan kader Muslimat NU Kota Metro di usia organisasi yang ke-80 tahun ini untuk semakin solid, ikhlas, dan berani bergerak dalam program kemaslahatan umat. Menurutnya, selama niat itu ditujukan semata-mata untuk jalan Allah, maka Allah sendiri yang akan mencukupkan dan memberikan jalan keluar dari arah yang tak terduga.
Acara peringatan Harlah Ke-80 Muslimat NU Kota Metro ini ditutup dengan doa bersama untuk kemakmuran bangsa, kemajuan organisasi, serta keselamatan umat.













